Konseling Dunia Roh

Dosakah seseorang jika membunuh walau dalam keaadaan terpaksa? Misalnya dalam peperangan, perampokan atau sekedar menjalankan tugas sebagai polisi.

Jawab :

Ingat, di zaman Alkitab juga ada tentara. Tetapi seorang tentara juga harus mempertanggungjawabkan setiap pembunuhan yang dilakukannya. Apakah ia membunuh karena membela Negara atau karena dendam pribadi ?

Misalnya Daud, meskipun ia tentara yang berjasa kepda bangsa dan Tuhan, ia harus mempertanggungjawabkan tangannya yang berlumuran  darah. Daud memahami itu sehingga ia menulis di kitab Mazmur bahwa yang boleh naik ke gunung Tuhan adalah orang yang suci hatinya dan bersih tangannya. Ini berbicara tentang tanggung jawab pekerjaan dan tanggungjawab hati. Sehingga daud tidak diizinkan Tuhan membangun bait suci. Yang diizinkan adalah Salomo.

Bolehkah seseorang menikah lagi jika telah bercerai dan yang menceraikannya adalah pasangannya ?

Jawab :

Saya bertanya balik kepada hati nurani. Apakah kita menikah dengan bertujuan suatu saat bercerai ? Tidak bukan? Mungkin anda bilang “ Amit! Amit!” Nah, jika tidak mempunyai tujuan tersebut, mengapa kita memikirkan hal tersebut ?

Ingat cara kerja iblis di dunia roh berhubungan dengan pikiran kita. Kalau kita sudah membuka celah permisif untuk bercerai, kita memberikan kesempatan iblis untuk memberikan kita alas an untuk bercerai. Itulah mengapa Firman Tuhan mengatakan jangan memberikan kesempatan kepada iblis.

Lagipula sebetulnya jawabannya sudah jelas disampaikan oleh Yesus di Alkitab. Di buku rohani tentang keluarga juga sudah jelas.

Bolehkan kita berbohong demi kebaikan ? Misalnya untuk melindungi seorang pencuri dari amukan massa yang ingin membunuhnya.

Jawab :

Gampang. Lebih baik jadi seorang bijaksana daripada menjadi seorang pembohong. Kalau anda betul-betul bijaksana dan beritikad baik, massa pasti akan mendengarkan anda. Saya diajarkan kakek guru saya untuk membela kebenanran dengan nyawa bukan dengan berbohong. Ini mengajar saya untuk menjadi bijaksana setipa kali menghadaai masalah.

Hasilnya, saya tetap segar bugar dan nama kakek-nenek guru saya dihormati oleh pengkut kebatinan. Belakangan saya baru mengerti bahwa inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan, “Barangsiapa bersedia kehilangan nyawanya, ia akan mendapatkannya.”